Puisi

Tuesday, September 18, 2018

UMPAMANYA!


Umpamanya; malam itu kita berdiri riang – sangat riang. Seketika kita menerima kado para tamu undangan, karangan bunga bertuliskan “Selamat menempuh hidup baru”, juga sebanyak doa dan restu oleh segenap Manusia dan alam. Kau dengan tata rias sesuai kesukaanmu, aku dengan tata rias seleraku. Malam itu sungguh sesuai impianmu. Sesederhana mungkin.

Umpamanya; bulan madu akan kita jadikan petualangan bersama. Hari pertama kita habiskan dengan mendaki. Sesuai mimpimu, menjadikan tenda sebagai pengayom pertama di kala tidur malam kita. Melibatkan alam dalam keceriaan kita. Kopi hitam kau seduh, guna pengawet dingin malam. Hari kedua kita tuntaskan di pesisir pantai, ini kesukaanku. Secara bergantian kita membaca puisi yang diiringi debur ombak. Susu coklat kesukaanmu telah ku seduh, agar malam makin manis. Dan kita saling kemas.

Umpamanya; kita merajut hidup bersama – selamanya di tempat yang asri. Burung, udara segar, dan embun selalu lalu lalang di hadapan kita. Rumah kecil nan indah selalu dikerumuni oleh senja di sore hari. Di tempat itu, alam adalah sahabat terbaik kita. Di tempat itu, jauh dari kesengsaraan kota dan hiruk-pikuknya.

Umpamanya; keutuhan kita memiliki ciri khas tersendiri, sama-sama menghargai hobi, menaklukan alam dengan potensi dan juga rasa cinta kita masing-masing, menjunjung tinggi hak bermanusia. Keutuhan kita adalah energi bagi semua Mahluk.

Umpamanya; setelah malam tiba, sebelum nyenyak merasuki, kita selalu membuka diskusi kecil. Soal hasil bacaan, pertukaran pendapat, menajamkan analisa – hingga berakhir sampai peluk.

Umpamanya; ketika titipan Tuhan lahir (anak), tatkala dialah penerus kecintaan kita kepada Mahluk. Mengabdi pada penciptanya, dan meneruskan kehebohan kita di muka bumi.

Umpamanya; kita hidup menua bersama, keriput bersama, dan sampai pada napas kita terhenti.

Sekali lagi. Umpamanya; dari semua itu, Adalah AKU yang menjadi mimpimu, dan KAU adalah mimpiku. Maka berbahagialah KITA.

19, September 2018

Sunday, August 19, 2018

Kau dan Juli 2018


Aku, pencinta bulan Mei, yang menyesali kekejaman Juli.

Dengan segala kesaksian.
Kita kembali sampai pada bulan yang pernah kita harapankan berakhir tenang. Sangat tenang, sampai aku lupa pada imaji rasa yang kau lukiskan ke dalam benak sepi, perlahan diusap menghilang.

Terhapus tanpa meninggalkan kelam. Lalu, alih-alih harapan akan menuai buah manis setelah berjalan, lagi aku harus dihadapkan pada sebuah kenyataan pedih.

Juli memang jahat. Terlalu jahat. Sampai aku, sosok yang pernah berimajinasi untuk memilikimu, mati perlahan meneguk pil pahit dari kenyataan. Kau yang menciptakan semua semu ini, hingga kewarasanku hilang.

Kau membunuhku perlahan, di balik senyummu yang sekarang hanya ku lihat sebagai beling yang siap menusuk lebih dalam. Mengoyak perasaan, larut bersama kehampaan yang kini masuk ke relung luka paling dalam

Kau memutuskan untuk pergi, bersama Juli yang pula telah kehilangan hari. Tidak cukup bagi dia kembali melangkah, karena telah habis masanya untuk menyapa. Mati sudah aku terkoyak rindu, membusuk aku babak belur dihajar harapan tak bertepi.

Selamat untuk hatimu yang akan hidup di suatu kepastian, sebuah kepastian yang pernah aku sangka akan ada aku di dalamnya. Rupanya, aku hanya tempat kau mengubah air mata menjadi tawa. Bukan mengubah sebenarnya, aku hanyalah tempat kau menukar airmata sedihmu dengan tawaku.

Saat aku percaya memberimu sukacita, kau dengan serta merta hanya meninggalkan duka. Setelah itu, kau bebas pergi melangkah tanpa pernah tersirat hati untuk menoleh lukaku yang terus mengangah. Tak ku sangka sekejam itu kau dan Juli.

Terimakasih walau pedih, aku tetap berusaha sebijaksana mungkin menerima perih. Patah hatiku selalu bijaksana, menjadi visual paling baik di mana aku bisa menuntaskan luka.

Sebuah puisi aku tulis untukmu dan Juli. Ya, untukmu yang ternyata berhasil berpura-pura menyapaku dalam rasa. Dan untuk Juli, yang telah menemaniku sepanjang hari. sebuah perjalanan panjang yang menuntunku menuju patah hati paling elegan. Hingga ujung bulan sebelum rasa memilih untuk benar-benar tenggelam

Mei akan tetap terpatri, Juli akan tetap terkenang, kau akan tetap menjadi diriku di dunia fana.



Saturday, June 23, 2018

Akan datang suatu masa



Calakanya, aku tak begitu hebat berpura-pura.
Mecintatai? Aku perlihatkan tanpa drama
Merindu? Aku kabarkan tanpa tanggung
Menyayangi? Aku lakukan tanpa alasan

Baiklah. Mari kita mulai semuanya dengan sadar.
Aku relakan kau dengan duniamu, dan aku sebagai duniaku.

Kelak, siapapun yang akan hidup di masa yang datang. Kupastikan, mereka akan paham bagaimana mencintai tanpa balasan, bagaimana merindu tanpa tanggapan, bagaimana menyanyangi tanpa kepemilikan. Sebab, tulisanku tentangmu, tentang bagaima tulusnya mencintai. Bakalan di lahap habis oleh mereka yang akan hidup di masa datang.
Aku percaya itu.

Kau tak usah khawatir, nanti di satu masa juga, kau menjadi perempuan idaman. Yang semua orang berebut duduk dan mendengar kisahmu. Sebab ada rasa yang tak sama sekali merana, ada juga hati yang sama sekali tak mengembala. Disitulah, kau tularkan benih pengorbanan.

Pada masa yang sama. Semua menyerukan namamu berkali-kali.



Gorontalo, 23 Juni 2018

Tuesday, June 19, 2018

Pu’Ade[1]




  1. Semenjak itu, aku tak berani lagi jatuh cinta. Tak ingin bermain rasa, tak ingin lagi sumbang harap.
Semenjak itu, aku tak berani kenal perempuan, tak ingin menanam rindu, tak ingin membuka ruang.
Dan semenjak itu, aku ingin bebas    sebebas-bebasnya menikmati hidup tanpa ‘dirimu,’ di sana!

Bukan peduliku. Bagiku, Setelah cukup lama menghabiskan waktu memecahkan teka-teki yang kau suguhkan, sudah waktunya untuku mengubur dalam perihal cerita pendek tentang ‘kita’ dan tentang ‘semua’.

Sudah waktunya kita melukis di tempat yang berbeda. Kau melukis akan sebuah gaun pengatin dengan warna keemasan – warna faforitmu. Dan aku melukis wajah samar, tak berarti bagiku siapa dalam gambar itu.

Kita adalah bagian sejarah era baru. Percayalah. Nanti di saat menua, kita bakalan dikenang sebagai pencipta rasa paling sempurna. Sesempurna kita pernah jatuh cinta.

Selaku manusia, dan selaku yang pernah bertahan sekalipun terhina, aku selalu berdoa pada tuhanku. Meminta agar tuhan memberikan kesehatan yang penuh untukmu, selalu memanjakan dirimu dalam situasi apapun.



Jangan lupa.! Aku menunggu undangan bahagiamu.

Boalemo, 7 Juni 2018



[1] , pu’ade berasal dari bahasa Gorontalo yang artinya; tempat pelaminan,






Friday, February 16, 2018

Lelucon. Itu yang aku ingat

Aku lupa dimana tempat awal kita mencintai.
Yang aku ingat. Kita pernah melakukan lelucon. Sehingga orang terdekat kita turut melakukan lelucon itu.

Pagi.
Siang.
Sore.
Malam - Seterusnya. Kita lakukan lelucon secara rutin.
Pada akhirnya menjadi kebiasaan.

Tiap kita bertemu. Sebelum percakapn panjang aku memulainya dengan kalimat " Sudah guting kuku?" Hal kecil. Tapi itu kesan

Terus terang. Hanya lelucon itu yang aku ingat betul. Dan hanya kesan itu yang berusaha aku jaga.

Masih ingat?

Catatan. 16 Februari

Thursday, February 15, 2018

Payung


Satu untukumu,
satu untuk-ku

Begitu dulu.
Kelak kita akan berdiri di payung yang sama. Memanjakan diri.
Bersama,
selamanya

18:54 am, Tilamuta, 13 Februari 2018

Wednesday, February 14, 2018

Kebetulan Lahir Di Jalan


Diam. Dinding kita hanya trepleks. Jangan sampai suaramu mengganggu peristirahatan orang parlemen.

Tutup mulutmu. Jangan sampai kita dianggap beban di tempat ini. Besok tinggal hitungan jam. Ada mobil mewah menunggu kita di jalan proyek lampu merah. Sapa tau di sana kita bisa mencari penampal perut untuk beberapa hari.

Jangan. Orang itu memakai rompi anti peluru. Sekalipun itu hasil dari pajak. Namun kita bisa apa? Lah, mereka dilindungi hukum.

Hati-hati. Kita tak punya keluarga di sini. Bisa saja kita dibuang jadi TKI lantas meninggal disana.

Bukan. Mereka orang asing. Kita saat ini jadi cukong. Bahkan orang terpelajar saja sering mereka tipu dengan sistem politik lembaga.

Ingat juga. Jangan sampai melewati batas kuning itu. Nanti kita dianggap melawan. Otoriter moderen, pencitraan, sok egaliter, misi mereka saat ini.

Media? Jangan bicara itu. mereka ahli propaganda. Kita juga harus aman dari mereka. Jangan sampai ketahuan. Nanti jadi bumbu penguasa

Sekarang tugas kita; tidur dan menunggu pagi datang.
Berdoalah besok kita dapat makan.

Catatan. 13 Februari 2018

Tugasmu di perpanjang



Aroma tubuhmu selalu terjaga di tiap harinya. Meleleh! Sungguh.

Aku kagum lompatan penuh hasrat.
Itu hanya dimiliki olehmu.
Rasaku begitu.

Tiap kali kita beradu.
Kau punya caramu sendiri memanjakan lawan. Banyak yang hebat.
Tapi kau pemenang



Perempuan merah



Aku tau kau pasti orangnya.
Kentara cara nafasmu.
Nafas yang selalu ku dengar di ujung malamku

Aku tau kau pasti orangnya.
Cara bicaramu sama persis  pada saat kau meriuh di ranjang.

Aku tau kau pasti orangnya.
Desakanmu merintih keras tepat pada saat kau tarik bahuku.

Jika benar itu dirimu.
Maka ku senyapkan dunia.
Lalu ku remas dirimu hingga darah menyetubuhimu.

Setelah itu!
Aku berikan kau pada tanah yang membikin wujudmu.

12 Februari 2018
© Copyright 2019 Faisal Saidi | All Right Reserved