![]() |
Sumber Gambar; Ig;@banggaber |
Aku mohon maaf pada kalian. Pada
akhirnya aku merepotkan seluruh Manusia yang masih bernafas. Termasuk, Usman,
sahabat seperjuangan. Kalau saja, Usman telah meninggal, tak ada orang yang
dengan mati-matian membelaku dan menemani mencari mukaku yang hilang. Sebenarnya
ini kali kedua aku mencari muka yang hilang. Namun, di pencarian kedua ini agak
sulit aku lalui. Itu karena mukaku sudah tidak laris lagi di pasaran. Banyak muka baru yang muncul dengan wajah berseri, elok, dilengkapi bersama senyum
manis – polos ketulusan. Makanya mukaku hilang di buang entah kemana. Habis,
parah, mati riwayatku.
Agar kita lebih akrab, juga
supaya Anda lebih mudah mencari mukaku yang hilang itu entah di mana. Tetapi sebelumnya, izinkan aku berkenalan lebih dulu, dan menceritakan setidak-tidaknya sedikit latar belakangku. Siapa tahu Anda sudah mengenalku lebih dulu, atau pernah bertemu denganku baik itu di jalananan, di panggung, di acara takziah, di
acara hari-hari besar. Siapa tahu, kan. Sebab aku akrab di tempat seperti itu.
Oke. Namaku Wajah Purnama. Aku lahir
di pekarangan sawah, umur 20 tahun Aku meninggalkan Desa kumuh, dan memilih
menetap di perkotaan. Pendidikanku tak seelok anak-anak kota pada umumnya – Aku
juga tak ingin ambil pusing soal itu. Di kota aku menempuh pendidikan formal S1
Matematika. Sama saja, tak ada yang menarik dengan kuliahku. Bangunan megah
tempat pendidikan tinggi itu masih saja menyimpan formasi lama. NKK/BKK yang dirumuskan Presiden Indonesia kala itu,
guna menyumbat nalar kritis Mahasiswa masih menetap setia berdiri. Bahkan semakin
massif saja format itu berjalan. Karena tidak ada pilihan lain, aku pun ikut
menikmati sisa-sisa perjuangan pak Harto itu. Kau tahu? Berkat Pak Harto, Aku
banyak mendapat keuntungan hanya dengan berkiprah di Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM). Kalau Anda tertarik, tugasmu hanya mengakali Mahasiswa dan dosen,
kuncinya hanya perlu siasat matang dan terukur.
Setelah menikmati banyak keuntungan di BEM, Aku mulai berafiliasi dengan dunia wartawan. Selama 8 tahun lamanya Aku menjadi wartawan lokal Kota. Sama dengan wartawan lainya, Tugasku mencari berita, menawarkan kerja sama dengan pemerintah daerah (agar ada pemasukan), mencari kesalahan para kepala dinas, lantas menyodorkan profosal perdamaian, menerbitkan berita sesuai jumlah donasi, menakuti warga, dan minum menyeruput kopi di kedai. Sesederhana itu kerjaanku menjadi wartawan. Menarik, bukan?
Setelah menikmati banyak keuntungan di BEM, Aku mulai berafiliasi dengan dunia wartawan. Selama 8 tahun lamanya Aku menjadi wartawan lokal Kota. Sama dengan wartawan lainya, Tugasku mencari berita, menawarkan kerja sama dengan pemerintah daerah (agar ada pemasukan), mencari kesalahan para kepala dinas, lantas menyodorkan profosal perdamaian, menerbitkan berita sesuai jumlah donasi, menakuti warga, dan minum menyeruput kopi di kedai. Sesederhana itu kerjaanku menjadi wartawan. Menarik, bukan?
Setalah
lelah menjadi wartawan, kebetulan Aku diberikan tawaran masuk partai politik. Katanya
(ketua partai politik) Aku adalah kader mempuni serta layak untuk mendapat
posisi strategis di partai itu. Lalu katanya, Aku akan diusung menjadi bursa
anggota DPR Kota. Kebetulan juga, Ketua Partai ini, adalah satu-satunya orang
yang senang memberiku dana dan setia mengisi kolom berita di waktu Aku menjadi
wartawan. Oleh itu, Aku terima tawaran untuk menjadi kader partai dan menjadi
calon anggota DPR Kota. Barangkali Tuhan memang selalu baik denganku. Setelah selesainya
seluruh pencoblosan di TPS-TPS Kota, melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU), Aku
dinyatakan terpilih menjadi anggota DPR Kota. Hal demikian juga terwujud berkat
ketua partai dengan lihainya menyogok ketua KPU. Bukan hanya itu, sebab rahasia
birahi ketua KPU, Aku yang tahu. Jadi semua berjalan lancar, sehingga hasil
baik bagiku dan partai.
Masuklah
Aku kedalam politik busuk. Kau tahu, kerjaanku sebagai anggota DPR ini sangat
mengejutkan. Kerjaan jangka pendek; melakukan perjalanan dinas. Kerjaan jangka
menengah; mengesahkan anggaran, lalu Aku mendapat setengah persen dari
pengesahan itu, menjalankan reses kecil berdampak penghasilan besar. Kerjaan jangka
panjang; berhura-hura, menyimpan uang sebanyak-banyaknya.
Nah,
pikiranku oleng ketika masuk di tahun ke-empat manjadi anggota DPR. Masa sulit,
bisa jadi masa suramku. Di tahun terakhir menjadi anggota DPR Kota. Aku menuai
banyak protes, hal itu disebabkan oleh rekanku menghianati aku secara
diam-diam. Semua keburukanku di tayangkan kepada masyarakat. Aku tak mampu
mengelak lagi. Benar, hanya seorang penghinat yang mampu menghancurkan Negeri
ini.
Esoknya,
mukaku ditemukan tepat di corong selokan. Esoknya lagi, mukaku ditemukan di
pasar Senen Kota. Akhirnya mukaku berkeliaran – terbuang. Aku dikeluarkan dari
partai itu, karena mereka melihat elektabilitasku habis di makan serakah. Banyak
muka baru yang muncul, dengan dalih pembangunan. Aku menjadi sampah di tengah
masyarakat. Sumpah serapah menyudutkanku di gang kemirisan. Pikirku saat ini,
bagaiman mengobati situasi ini agar pulih kembali? Bagaimana caranya agar Aku
terterima lagi? Bagaimana melakukan tindakan agar ada kepercayaan kembali?
Pada saat kekacaun berlangsung, Aku hanya bisa berkata; “Jalan terakhir yang perlu di tempuh adalah mendekatkan diri sepenuh
hati kepada pimpinan daerah (Walikota). Agar aku tetap terterima. Ini juga demi
kebutuhanku kedepan agar aku mulus untuk melaju di periode kedua anggota DPR. Karena,
Usman adalah juru bicara Walikota, maka. Usman, adalah orang yang bisa
membantuku saat ini untuk melakukan mediasi permohonan bergabung kepada
Walikota. Kau tahu kenapa, Usman dengan antusiasnya mencari mukaku? Kalau tidak
dengan begitu, rahasia, Usman waktu melakukan tindakan penganiayaan warga Kota
yang berakibat meninggal akan aku laporkan. Ini adalah peluru terakhirku.
Usman,
Aku, dan sangat memohon pertolongan Anda. Sekiranya kalau punya waktu luang, “MOHON BANTU TEMUKAN MUKA SAYA"
FOLLOW THE Faisal Saidi AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Faisal Saidi on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram